Text
Brawijaya Moksa : Detik Detik Akhir Perjalanan Hidup Prabu Majapahit
Ketika genderang perang sudah ditabuh oleh Prabu Girindrawardhana, Raja Kediri, untuk kesekian kalinya ke Kutaraja Trowulan, hati Sang Prabu Brawijaya V menjadi luluh. 'Perang hidup-mati' antara pasukan Kediri dengan Majapahit yang identik dengan Perang Bratayuda Jayabinangun pun pecah di daerah Jingga, dekat Kutaraja Trowulan. Karena banyak para adipati atau tumenggung yang membelot dan bergabung dengan Prabu Girindrawardhana, tak ayal prajurit Majapahit pun keteteran menghadapi prajurit Kediri, sedang sebagian yang lain meregang nyawa. Ya, Majapahit telah tumbang!
Peristiwa itu ditandai dengan candra sengkala 'sirna ilang kertaning bhumi' yang mengisyaratkan tahun 1400 Saka atau 1478 M.
Pasca lengser keprabon dari takhtanya, Prabu Brawijaya V mengajak dua orang abdi kinasihnya Sabda Palon dan Naya Genggong pergi ke Gunung Lawu di kawasan Argo Lawu untuk menggapai kasampurnan atau moksa dengan menjalani dharma, yakni bersemadi atau tapa brata. Berhasilkah Prabu Brawijaya V menggapai cita-citanya, moksa?
Dan, berhasil pulakah upaya Raden Patah 'mengislamkan' ramandanya Prabu Brawijaya V melalui 'jago' atau utusannya, Sunan Kalijaga?
| A2011003458 | 813 WAW b | Rak Karya Umum (SMP) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain