Text
Menjemput Kenangan
Lelaki sejati adalah pejuang, Nak. Dan, setiap pejuang pasti ingin pulang. Suara itu sudah berumur lebih dari tiga minggu, namun masih meninggalkan gaung di kepalanya. Dan ketika lelaki muda itu takut bertindak terburu-buru, suara yang sama memenangkannya lagi. Nak, rindu tak pernah tergesa-gesa, dan ia hasrat paling jujur yang pernah dilahirkan hati kita. Maka keraguan pun sirna. Lelaki muda itu kini yakin, dia harus pulang. Sebab rindu memanggilnya. Dia rindu wajah ibu, juga adiknya. Dia bahkan rindu gang-gang sempit, dan suara marbot tua di musala usang, dekat rumahnya. Atau kali penuh sampah yang biasa ia susuri pergi dan pulang sekolah. Meski kakinya sudah menjelajah jauh, Singapura, Tokyo, Sidney, dan kota-kota besar di dunia, tetap saja dia tidak bisa melupakan Jakarta. Sebab ibunya di sana. Ibu yang kerap membuat lelaku muda itu menangis diam-diam, di atas buritan kapal yang melaut, berbisik, 'Bu, aku rindu!' Bersama 'Menjemput Kenangan', masih banyak cerita-cerita lain yang menyentuh dan menyentil kepedulian kita, akan segala.
| B2009001083 | 813 MEL m | Oase Baca (SMAIT) | Tersedia |
| B2009001030 | 813 MEL m | Pusling (Pustaka Keliling) SMP UQ Boarding (SMP UQ Boarding) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain